Minggu, 14 Februari 2021

 

HANYA ALLOH SEBAGI TUHAN KITA

 Hadits dibawah ini tertera dalam kitab Nashoihul ‘Ibad karya Ibnu Hajar Al-Asqalani yang disyarah oleh Imam Nawawi Albantani.

Hadis Pertama

Sebagaimana diriwayatkan kepadaku oleh Al-Allamah Asy-Syekh Muhammad Al-Khatib Asy-Syami Al-Madani Al-Hambali, yaitu Ibnu Utsman bin Abbas bin Utsman, diterima dari para Syekh beliau dengan sanad muttasil (bersambung) sampai kepada Abu Dzar Al-Ghiffari ra, dari Rosulullah saw dalam sabdanya yang menceritakan firman Allah dalam hadis qudsi. Allah swt berfirman :

YAA  ‘IBAADIA  INNII HARROMTU DH-DHULMA ‘ALAA NAFSII WAJA’ALTUHU BAINAKUM MUHARROMAN FALAA TADHLAMUU

"Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan berbuat aniaya atas diri-Ku dan Aku haramkan pula perbuatan itu pada kalian, maka janganlah kalian saling aniaya.

 YAA ‘IBAADII KULLUKUM DHOOLLUN ILLAA MAN HADAITUHU FASTAHDUUNII AHDIKUM

Hai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya kalian semua sesat, selain orang yang Aku beri petunjuk. Maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian petunjuk.

 YAA ‘BAADII KULLUKUM JAA-I’UN ILLAA MAN ATH’AMTUHU FASTATH’IMUUNII  UTH’IMKUM

Hai hamba-hamba-Ku! Kalian semua lapar, selain kalian yang Aku beri makan. Maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian makan.

YAA ‘IBAADII KULLUKUM ‘AARIN ILLAA MAN KASAUTUHU FASTAKSUUNII AKSUKUM

Hai hamba-hamba-Ku! Kalian semua tidak berpakaian, selain orang yang Aku beri pakaian. Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian pakaian.

YAA ‘IBAADII INNAKUM TUKHTI-UUNA BILLAILI WANNAHAARI WA ANAA AGHFIRUDZ-DZUNUUBA JAMII’AA FASTAGHFIRUUNII  AGHFIRLAKUM

Hai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya kalian berbuat dosa di malam dan siang hari, sedang Aku mengampuni segala dosa, maka mintalah ampunan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi ampunan bagi kalian.

 YAA ‘IBAADII ANNAKUM LANTABLUGHUU DLURRII  FATADLURRUUNII, WALAN TABLUGHUU NAF’II FATANFA’UUNII

Hai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya kalian tidak akan mampu mendatangkan bahaya atas-Ku dan tidak pula mampu membawa manfaat bagi-Ku.

YAA ‘IBAADII LAU ANNA AWALAKUM WA AKHIROKUM WA INSAKUM WAJINNAKUM KAANUU ‘ALAA ATQOO QOLBI RAJULIN WAHIDIN MINKUM MAA ZAADA DZAALIKA FI MULKII SYAI-AA

Hai hamba-hamba-Ku! Andaikan seorang di antara kalian berhati takwa sejumlah ketakwaan orang-orang dahulu dan sekarang, baik manusia maupun jin, maka semua itu tidak akan menambah sedikitpun pada kerajaan-Ku.

YAA ‘IBAADII LAU ANNA AWWALAKUM WA AKHIROKUM WA INSAKUM WAJINNAKUM KAANUU ‘ALAA AFJARI QOLBI ROJULIN WAHIDIN MINKUM MAA NAQOSHO DZAALIKA MIN MULKII SYAIAA

Hai hamba-hamba-Ku! Andaikan seorang di antara kalian berhati jahat sejumlah kejahatan orang-orang dahulu dan sekarang, baik manusia maupun jin, maka semua itu tidak akan mengurangi sedikitpun pada kerajaan-Ku.

YAA ‘IBAADII LAU ANNA AWWALAKUM WA AKHIROKUM WA INSAKUM WAJINNAKUM QOOMUU FII SHO’IIDIN WAAHIDIN FASA-ALUUNII FA-A’THITU KULLA WAHIDIN MAS-ALATAHU MAA NAQOSHO DZAALIKA MIMMA ‘INDII ILLA KAMAA YANQUSHULMUKHITHU IDZAA UDKHILALBAHRO

Hai hamba-hamba-Ku! Andaikan yang awal sampai yang akhir, manusia dan jin, serempak berdiri di suatu tempat untuk memohon kepada-Ku dan Aku berikan pada tiap-tiap orang akan permintaannya, niscaya semua itu tidak akan mengurangi sedikitpun yang ada pada-Ku selain seperti sebuah jarum jahit dimasukkan ke lautan.

YAA ‘IBAADII INNAMAA HIYA A’MAALUKUM UHSHIIHAA LAKUM TSUMMA UWAFFIIKUM IYYAAHAA  FAMAN WAJADA KHOIRON FALYAHMADILLAAHA WAMAN WAJADA GHOIRO DZAALIKA FALAA YALUUMANNA ILLAA NAFSAHU

Hai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya semua itu adalah perbuatan kalian yang akan Aku perhitungkan untuk kalian, kemudian aku akan memberikannya dengan penuh kepada kalian. Maka, barangsiapa menemukan kebaikan bersyukurlah kepada Allah dan barangsiapa menemukan selain itu, janganlah mencela, kecuali pada dirinya sendiri."

 

Kamis, 04 Februari 2021

 

Kewajiban Istri Terhadap Suami dalam Islam

Selain memiliki beberapa hak yang harus ditunaikan suami, istri juga memiliki kewajiban terhadap suami yang tak bisa ia abaikan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut;

 

1. Selalu ta’at pada suami

Istri diwajibkan selalu ta’at pada suami kecuali dalam hal-hal yang melanggar aturan agama dan atau kesusilaan. Ini khususnya berlaku ketika suami menyuruh istri untuk melaksanakan shalat, melakukan ibadah dan melaksanakan kewajiban lain seperti memenuhi undangan, menutup aurat dan lain sebagainya.

Adapun dalam hal-hal lain yang sifatnya relatif dan bisa dibincangkan bersama, istri seharusnya selalu meminta pendapat suami setiap akan membuat keputusan dan langkah dalam hidupnya, semisal terkait dengan pekerjaan, karier, keluarga, pendidikan anak dan lain sebagainya.

 2. Bermuka manis dan menyenangkan suami

Kategori bermuka manis dan menyenangkan suami ini tentu bisa berbeda berdasarkan kebiasaan dan pola yang berjalan dalam sebuah rumah tangga.

Bagi keluarga A, misalnya menyenangkan suami dilakukan dengan memasak makanan kesukaannya, sedang bagi keluarga B, menyenangkan suami berarti mengajak suami liburan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, sesuaikan prinsip ini dengan pola dalam keluarga Anda masing-masing.

3. Menjaga harta, rumah dan kehormatan suami

Lagi-lagi, prinsip ini bersifat fleksibel sesuai dengan pola yang berjalan dalam sebuah rumah tangga. Akan tetapi umumnya, istri diserahi tugas untuk mengelola keuangan keluarga, khususnya istri yang tidak bekerja dan karenanya tidak memiliki penghasilan tetap.

Menanggapi hal ini, Imam Al-Ghazali, seorang ulama’ besar Islam berkomentar bahwa “di luar uang untuk kepentingan keluarga, suami juga diwajibkan memberi uang kepada istri sebagai ‘gaji’ karena telah menjaga rumah dan mengasuh anak, dalam kasus istri yang tidak bekerja dan memilih untuk tinggal di rumah.”

Bagi Al-Ghazali, uang untuk keperluan keluarga dengan uang nafkah untuk istri pribadi harus dibedakan.

Point penting dari ajaran ini adalah bahwa istri harus turut serta aktif menjaga—dan atau mengelola—harta yang dimiliki sebuah keluarga. Dengan demikian, pembagian kerjanya adalah jika suami berupaya mendapatkan harta, maka istri yang bertugas merawat dan menjaganya, bahkan jika mungkin mengembangkannya.

Sementara itu, perintah menjaga rumah juga secara khusus berlaku bagi istri yang memilih untuk menghabiskan waktunya di rumah. Perintah ini berkait erat dengan nilai etika lain yang diajarkan dalam Islam:

·         Seorang istri tidak boleh keluar rumah tanpa idzin suaminya apalagi membolehkan lelaki lain masuk ke dalam rumahnya ketika si suami tengah bepergian.

·         Menjaga kehormatan suami adalah tidak memebeberkan aib suami pada orang lain sebab hal tersebut secara tidak langsung menunjukkan kelemahan istri yang tidak bisa menjaga rahasia keluarga.

Point terakhir tidak termasuk kebiasan melakukan curhat atau sharing yang diniatkan untuk mencari solusi atas permasalahan yang terjadi, meskipun harus dipastikan bahwa partner yang mendengar cerita dan dimintai solusi tersebut tidak akan membeberkan cerita yang didengarnya.

 

4. Menghindari Murka dan Mencari Kerelaan Suami

Kerelaan suami disebut-sebut sebagai tiket seorang istri untuk meraih kebahagiaan akhirat dan mendapat surga. Karena itu, seorang istri harus berusaha sebisa mungkin untuk mendapatkan kerelaan suami. Ini utamanya terkait juga dengan hal-hal di luar kewajiban;

·         Tindakan-tindakan lain yang disenangi suami dan dapat membahagiakan hatinya

·         Membantu suami menyelesaikan pekerjaan

·         Mengatasi masalah

·         Terampil mengurus rumah

·         Peka terhadap kebutuhan suami dan lain-lain.

Akan tetapi, satu hal penting yang tidak boleh dilupakan dalam upaya mencari kerelaan suami ini adalah menghindari murka suami karena hal tersebut tidak hanya akan menggagalkan upaya mendapatkan kerelaan suami, akan tetapi juga mengancam keutuhan rumah tangga.

Beberapa hal di atas adalah kewajiban istri terhadap suami dalam pandangan Islam. Karena itu, seorang istri tidak seharusnya menuntut haknya dipenuhi oleh suami sebelum menunaikan kewajiban-kewajibannya. itu, kewajiban yang tidak kalah penting adalah membangun komunikasi yang baik dengan suami demi menjaga keutuhan rumah tangga dan menciptakan lingkungan dan suasana kondusif serta suportif bagi seluruh anggota keluarga, utamanya anak-anak yang tengah mengalami masa pertumbuhan. Description: Selain memiliki hak yang harus dipenuhi suami, istri juga berkewajiban melakukan beberapa hal terhadap suaminya, sebagaimana diatur dalam Islam dan bisa disesuaikan dengan pola yang berjalan dalam sebuah rumah tangga.

 

Senin, 01 Februari 2021

 

SIFAT ISTRI YANG DIBENCI SUAMI


Sebaiknya para istri dapat menjauhi sifat sifat dibawah ini agar tidak dibenci oleh suaminya.

Sifat sifat tersebut adalah :

1. Istri yang sibuk dengan dirinya sendiri.

Istri seperti ini biasanya menjauhi segala urusan suami, dan lebih mementingkan urusan serta kegemarannya sendiri. Pada dasarnya, istri seperti ini merasa nyaman setiap kali dia bisa menyendiri, serta bisa menjaga segala apa yang dia dengar, dia lihat, dan dia sentuh untuk diri sendiri. Boleh jadi hal ini merupakan akibat adanya penyakit psikis yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. …Istri seperti ini adalah istri yang mengabaikan eksistensi suaminya. Karena dia selalu tidak meminta saran suaminya, atau tidak melibatkannya dalam urusan keluarga… 

2. Istri yang suka mendominasi.

Istri seperti ini adalah istri yang mengabaikan eksistensi suaminya. Karena dia selalu tidak meminta saran suaminya, atau tidak melibatkannya dalam urusan keluarga. Dia senantiasa menjalankan sendiri segala urusan keluarga dan urusan rumah dengan tanpa memandang pendapat suami.

Di sini, seorang suami akan merasa bahwa jati dirinya telah hilang, sebab yang bisa dia lakukan untuk kebaikan rumah atau anak-anaknya hanya menyerah saja, atau mengabaikan keberadaan dirinya. Pria semacam ini, jika tidak memisahkan dirinya dari istri seperti itu, bisa jadi dia akan berusaha mencari, atau mendapatkan apa yang dia inginkan selama ini dari wanita lain.

3. Istri yang gemar berdusta.

Salah satu hal yang mesti dimiliki dalam hubungan pernikahan adalah unsur kejujuran dalam segala hal. Ini mengingat, kejujuran merupakan salah satu pilar ketenteraman dan kebahagiaan. Di luar sana terdapat banyak wanita yang gemar berdusta. Mereka menjadikan dusta sebagai hobi atau sebagai dalih karena takut sesuatu. Namun apa pun alasannya, dusta dan tipu daya adalah dua hal yang paling dibenci kaum pria. Meskipun terkadang seorang pria menerima tindakan dusta dari istrinya karena satu atau lain hal, namun penerimaan seorang suami terhadap sifat buruk itu biasanya disertai dengan pandangan meremehkan.

4. Istri yang kejam/galak.

Istri semacam ini adalah istri yang begitu mudahnya memberikan hukuman kepada suaminya, ketika suaminya melakukan suatu hal tertentu. Istri seperti ini terus-menerus meresahkan suaminya, sebab karakter permusuhannya tersebut. Selain itu, istri seperti ini akan terbiasa mengeluarkan kata-kata pedas, keras, dan kasar kepada tetangga, teman-teman, dan anggota keluarganya. Istri yang kejam, tentunya menimbulkan banyak masalah bagi suaminya, bahkan bagi anak-anaknya pula. Sehingga tertanam dalam jiwa anak-anaknya sikap tidak senang dan akan menjauh dari ibunya.

5. Istri yang menyulitkan.

Wanita semacam ini terbiasa hidup dalam suasana kehidupan yang penuh dengan perilaku buruk, gejolak rumah tangga, senantiasa menciptakan benih-benih perselisihan. Sebab setiap kata yang terlontar dari mulut suaminya yang berisi perintah terhadap hal penting yang mesti dilakukan istrinya, ternyata istrinya malah menepis semua perkataan suaminya dan menolak bertanggungjawab atas hal itu. Sehingga seringkali dia menciptakan kesulitan dan menyulut pertikaian antara dirinya dengan suaminya. Dalam kondisi demikian, sang suami lebih mengutamakan untuk menjauh dari rumah, atau barangkali dia akan tetap di rumah dan ikut-ikutan dengan sifat buruk istrinya.

6. Istri yang pasif.

Istri semacam ini akan membiarkan dan menyerahkan segala urusan kepada suaminya, sehingga suaminya menjalankan seluruh urusan keluarga dan rumah tangga. Peran istri hanya terbatas menjalankan instruksi-instruksi suaminya. Dia senantiasa menyerah dalam segala hal, seakan-akan dia menuntut suaminya agar lebih berkuasa dengan tanpa berusaha menunjukkan perannya atau keberadaannya sedikit pun terhadap suaminya, padalah dia adalah pasangan hidup bagi suaminya.

7. Istri yang keras kepala.

Istri semacam ini adalah istri yang keras kepala dalam segala hal, dan dia terus berlindung di balik sifatnya yang keras kepala itu. Sebab dia mendapatkan kenyamanan pada dirinya ketika dia bersikeras mengikuti pendapatnya, sekalipun itu salah. Di samping itu, melalui cara itulah dia mendapatkan kepuasan diri. Misalnya, andai suaminya menginginkan satu jenis makanan, dia terus-menerus menyiapkan jenis makanan lainnya, sekalipun sebenarnya jenis makanan itu juga tidak disukainya. Wanita semacam ini adalah wanita yang paling dibenci kaum laki-laki.

…Istri yang keras kepala dalam segala hal adalah wanita yang paling dibenci kaum laki-laki…

8. Istri yang menggemari rutinitas.

Istri semacam ini adalah sosok yang menganggap bahwa pernikahan adalah akhir dari segala kehidupannya. Sebab segala ambisi dan keinginannya telah dipendam dalam-dalam pasca menikah. Menurutnya, setelah menikah tidak ada lagi keinginan dan ambisi. Dengan begitu, dia beranggapan bahwa hari ini sama dengan hari kemarin, dengan artian, bahwa segala sesuatu dalam kehidupan pernikahan hanya sarat dengan rutinitas yang teratur dan monoton.

Hal-hal di atas adalah bagian dari sifat-sifat istri yang paling dibenci kaum suami. Oleh karena itu, hendaknya para istri kembali meniti kembali gaya hidupnya dengan menjauhi sifat-sifat di atas, demi meraih kebahagiaan dan ketenteraman kehidupan rumah tangga.

Minggu, 05 April 2020

CARA MENYAMBUT RAMADHAN


1. Berdoa agar diberi Umur panjang dan selalu sehat, sehingga kita nantinya dapat berpuasa dengan tenang dan nyaman..
Nabi Muhammad S.a.w selalu berdo'a :
اللهم بارك لنا في رجب و شعبنا وبلغنا رمضانا
"Allahumma bariklana fi Rajaba wa sya'bana waballighna Ramadhana"
Artinya : " Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan". [ HR. Ahmad ]

2. Bergembira dg akan hadirnya bulan Ramadhan.
Nabi Muhammad S.a.w memberi khabar gembira  :
اذا جاء رمضان فتحت ابواب الجنة وغلقت ابواب النار وصفدت الشياطين
Artinya : "Apabila telah datang bulan Ramadhan, maka pintu pintu Surga dibuka, pintu pintu Neraja ditutup, dan setan setan dibelenggu". [ HR. Bukhari ].
3. Mendalami ilmu fiqih Ramadhan.
Pelajarilah ilmu fiqih yang berkaitan dengan masalah Syarat dan rukun puasa, sunah puasa, pembatal puasa, hikmah puasa, dll.
Sehingga kelak kita dapat menjalankan puasa dengan cara benar dan sempurna.
Allah S.w.t berfirman :
فاسئلوا اهل الذكر ان كتتم لاتعلمون
Artinya : " Maka bertanyalah kamu kepada Ahli Dzikir / Ahli ilmu, jika kamu tidak mengetahui". [ Q.s. Al-Anbiya : 7 ].
4. Bersihkan hati sejak dini.
Sebagian Ulama berkata :
رجب لتطهير البدان وشعبان لتطهير القلب ورمضان لتطهير الروح
Artinya : " Bulan Rajab untuk mensucikan badan, bulan Sya'ban untuk mensucikan hati, dan bulan Ramadhan untuk mensucikan Ruh". [ Durotun Nasihin : 208 ].
Oleh karenanya maka dibulan Sya'ban ini hendaklah kita mulai berusaha membersihkan hati dari kotoran kotoran hati, semisal "Sombong, Ujub, hasud, riya, sum'ah, Ghadhab, dan lain lain.
sebab semua kotoran hati tersebut dapat memusnahkan kebaikan kebaikan kita, termasuk kebaikan / pahal puasa kita; laksana hama yang dapat merusak tanaman.
والله اعلم بالصواب

Semoga bermanfaat.
Aamiin.

Kamis, 02 April 2020

CARA MENYAMBUT RAMADHAN


Ramadhan Adalah bulan yang penuh dengan  kebaikan dan keutamaan, dan itu akan dapat dirasakan dan diraih ketika ilmu tentang Ramadhan dipahami dengan baik. Bayangkan, para generasi awal Islam sangat merindukan bertemu dengan bulan suci ini. Mereka berdoa selama enam bulan sebelum kedatangannya agar mereka dipanjangkan umurnya sehingga bertemu dengan Ramadhan.
Saat Ramadhan tiba, mereka sungguh-sungguh meraih kebaikan dan keuataman Ramadhan. Dan ketika mereka berpisah dengan Ramadhan, mereka berdoa selama 6 bulan setelahnya, agar kesungguhannya diterima Allah SWT. Kerinduan itu ada pada diri mereka, karena mereka sadar dan paham betul keutamaan dan keistimewaan Ramadhan.
Lalu Bagaimana cara kita menyambut akan datangnya bulan  Ramadhan ?

Caranya adalah :
Pertama
: Selalu Memohon agar Dipanjangkan Umur.
Berdoa agar Allah SWT memberikan umur panjang kepada kita sehingga kita berjumpa dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat. Sebab  Dengan keadaan sehat, maka kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal,  seperti menjalankan puasa, shalat, tilawah, dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah SAW apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa : “Allahuma bariklana fii rajaba wa sya’bana, wa balighna Ramadhana”.
Artinya “ Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadan. (HR. Ahmad dan Tabrani)

Kedua : Banyak banyak Memuji Allah SWT
Pujilah Allah SWT karena Ramadhan telah diberikan kembali kepada kita.
Imam An Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata: ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya”.
 Dan di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah SWT kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan.

Ketiga : Gembira dengan Datangannya Ramadhan
Rasulullah saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya setiap kali datang bulan Ramadhan:
“إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة وغلقت أبواب النار، وصفدت الشياطين”
رواه البخاري ومسلم واللفظ له

Artinya : “ Apabila telah dating bulan Ramadhan, maka pintu pintu surge dibuka, pintu pintu Neraka ditutup, dan seten setan dibelenggu”. [ HR. Bukharai ].



Keempat : Merencanakan Agenda Harian
Ramadhan sangat singkat, isilah setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Misalnya kita punya agenda dapat membaca Al-qur’an dalam setiap hari 1 juz, dan lainnya.

Kelima : Bulatkan Tekad
Barangsiapa jujur kepada Allah SWT, maka Ia pun akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendan kita dan memudahkan kita dalam melaksanakan aktivitas-aktivitas kebaikan. Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. (QS. Muhamad:21)

Keenam : Pahami Fiqh Ramadhan
Setiap mukmin wajib hukumnya beribadah dengan dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadhan datang agar amaliyah Ramadhan kita benar dan diterima oleh Allah SWT.
Bacalah buku buku fiqih Puasa, atau bertanyalah kepada para Ustadz yang sudah ahli.
Allah Swt berfirman :
“Fas-aluu Ahladz-Dzikri inkuntum laa Ta’lamuun”
Artinya : “Maka bertanyalah kamu kepada Ahli Dzikir [ Ahli ilmu ] jika kamu belum mengetahui” (QS. Al-Anbiyaa’ :7)

Ketujuh : Bersihkan hati dan jiwa sebelum Ramadhan hadir.
Misalnya : Sifat Sombong, Ujub, Hasad, Riya’ sum’ah, dan lain sebagainya.
Sehingga dengan cara demikian maka Puasa ramadhan kita nanti akan dapat bernilai sempurna,
Ibarat bercocok tanam tanpa dibarengi dengan adanya hama yang dapat merusak tanaman.
Oele karenanya dalam Kitab Durotun nashihin dijelaskan bahwa Bulan Rajab adalah bulan Pembersihan badan, bulan Sya’ban adalah bulan Pensucian hati, dan bulan Ramadlan adalah bulan pensucian sir atau jiwa.

Kedelapan : Tinggalkan Dosa dan Maksiat
Isi Ramadhan dengan membuka lembaran baru yang bersih dan bertaubat dengan sebenarnya (taubatan nashuha). Seperti halnya firman Allah SWT :
“Watubu ilallahi jami’an ayyuhal mukminun la’allakum tuflihun”
Artinya : “ Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung”.(QS. An-Nur: 31).




HIKMAH DIBALIK MUSIBAH

Oleh : Mubarok

A.Pengertian musibah
Secara Bahasa, Musibah asal kata bahasa Arab yakni “ashaba”  yang artinya menimpa, atau membinasakan.
Menurut Istilah, Musibah adalah “Kejadian apa saja yang menimpa manusia yang tidak dikehendaki. Misalnya : “Sakit, rugi dalam berusaha, kehilangan barang, meninggal, bencana alam, wabah penyakit, dan lain sebagainya.

B.Dalil tentang Musibah
Allah Swt berfirman :
اَلَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ قَالُوْا إِنَّا ِللهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ
 “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa oleh musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’.”  ( Q.s Al-Baqarah: 156 )

Dalam ayat di atas Musibah dan anugerah adalah dua hal yang tidak luput dari kehidupan manusia.
Islam telah mengajarkan bagaimana menyikapi kedua hal tersebut. saat mendapat musibah kita harus bersabar, karena dengan kesabaran, berharap Allah mengampuni dosa-dosa hambanya.
Jika mendapat anugerah haruslah menyikapinya dengan bersyukur, karena dengan bersyukur maka kita  akan menambah tabungan untuk bekal kehidupan kelak diakherat

C.Hikmah Dibalik Musibah
1. Musibah Mendidik Jiwa Dan Menyucikan Dosa
Allah Ta’ala Berfirman :
وَما أَصابَكُمْ مِنْ مُصيبَةٍ فَبِما كَسَبَتْ أَيْديكُمْ وَ يَعْفُوا عَنْ كَثيرٍ

Artinya : “Apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Qs, asy Syura: 30)

2. Mendapatkan Kebahagiaan (Pahala) di Akhirat
kegetiran hidup yang dirasakan seorang hamba ketika di dunia akan berubah menjadi kenikmatan di akhirat. Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, ”Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”

3. Sebagai Parameter Kesabaran Seorang Hamba
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya.”

4. Memurnikan Tauhid Dan Menguatkan Hati 
Wahab bin Munabbih mengatakan, “Allah menurunkan cobaan supaya hambanya memanjatkan do’a dengan sebab bala’ tersebut.”
Allah Ta’ala Berfirman :
وَإِذَآ أَنْعَمْنَا عَلَى اْلإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَئَا بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَآءٍ عَرِيضٍ

Artinya : “Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdo’a.” (Qs, Fust Shilat : 51)

PILAR PILAR KELUARGA BAHAGIA



Oleh : Mubarok
Untuk
membangun pernikahan yang kokoh,  Islam juga banyak memberikan tuntunan
dan pelajaran.  Dari referensi yang didapatkan,  setidaknya ada
 4 (empat) pilar yang menentukan sebuah keluarga akan kokoh atau rapuh.
Pilar-pilar tersebut adalah Zawaj, Mitsaqan ghalizhan, mu’asyarah bil ma’ruf
dan Musyawarah.
1.Zawaj
 yang berarti berpasangan;  
Dalam
istilah Islam, pergaulan dalam pernikahan disebut zawaj
 (berpasangan).  Suami isteri itu laksana sepasang sayap yang bisa
membuat seekor burung terbang tinggi untuk hidup dan mencari kehidupan.
Keduanya penting, saling melengkapi, saling menopang satu sama lain dan saling
kerjasama antara pasutri. Dalam ungkapan al-Qur’an, suami adalah pakaian isteri
dan isteri adalah pakaian suami, sebagaimana diilustrasikan dalam Surah
Al-Baqarah (2) ayat 187.

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ
لِبَاسٌ لَهُنَّ
Artinya
: “Mereka [ Para istri ] adalah pakaianmu, dan kalian adalah pakaian untuk
mereka”.

Jika
pilar ‘berpasangan’ ini dipahami dalam pernikahan yang dibangunnya, tentunya
pasutri musti menyadari betapa mereka harus saling menjaga keseimbangan dalam
kehidupan rumah tangganya. Memaklumi kekurangan pasangannya dengan menghargai dan
menghormati kelebihannya, baik isteri terhadap suami, maupun suami terhadap
isteri. Insya Allah, fitrah ‘berpasangan’ dalam kehidupan rumah tangga yang
seperti ini akan sangat indah dalam hari-harinya.

2. Mitsaqan ghalizhan
yang berarti janji yang kuat;
Suami
istri sama-sama menghayati perkawinan sebagai ikatan yang kokoh sesuai tersurat
dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa (4) ayat 21.


Dengan
ikatan yang kuat dan kokoh, tentunya suami istri akan bisa saling menyangga seluruh
sendi-sendi kehidupan rumah tangga. Keduanya diwajibkan menjaga ikatan ini
dengan segala upaya yang dimiliki. Tidak bisa yang satu menjaga dengan erat,
sementara yang lainnya melemahkan. Saling mengukuhkan, bukan saling
menggerogoti.

3. Mu’asyarah bil
Ma’ruf  atau Saling Memperlakukan Pasangannya dengan Baik.
 Ikatan pernikahan tentunya juga harus
dipelihara oleh pasutri dengan cara saling memperlakukan pasangannya dengan
baik dan patut, Al-Qur’an dalam Surah An-Nisa ayat 19 memerintahkan hal ini:
 “Wa’asyiruhunna bil ma’ruufi , dan bergaullah dengan mereka dengan cara
yang baik.” Demikian Firman Allah Swt.
Seorang
suami harus selalu berfikir, berupaya dan melakukan yang terbaik bagi dan untuk
isteri. Demikian juga sebaliknya seorang isteripun musti berupaya yang sama
untuk suaminya. Kata mu’asyarah bil ma’ruf adalah bentuk kata kesalingan
sehingga perilaku berbuat baik harus bersifat timbal balik, yakni suami kepada
isteri dan isteri kepada suami. Masing masing bercita-cita untuk menjadi ‘
orang nomor satu’ bagi pasangannya.


4. Musyawarah.
Kata
ini sudah pasti sangat mudah dimengerti dan dipahami. Pengelolaan rumah tangga
terutama jika menghadapi persoalan atau problematika hendaknya harus
diselesaikan bersama. Musyawarah adalah cara yang sehat untuk berkomunikasi,
meminta masukan, menghormati pandangan dan pendapat pasangannya dan mengambil
keputusan yang terbaik . Secara panjang lebar, Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah
(2) ayat 233 memberikan gambaran sebagai berikut:
“Para ibu
hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin
menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada
Para ibu dengan cara ma’ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar
kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan
seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. apabila
keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan
permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu
disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan
pembayaran menurut yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah
bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Baqarah/2:233).