Rabu, 15 Maret 2023
Selasa, 14 Maret 2023
PUASA DALAM PERSPEKTIF TASAWUF IMAM GHAZALI
AKTUALISASI NILAI ISRA' MI'RAJ DALAM KEHIDUPAN
PUASA DALAM PERSPEKTIF TASAWUF
Mubarok,S.Ag, Penyuluh Agama Islam Fungsional Kecamatan Negerikaton Kabupaten Pesawaran menyampaikan Mau'idhatul hasanah pada acara Songsong Ramadhan yang diadakan di Masjid Al-ikhlas Kantor kementerian Agama Kabupaten Pesawaran pada hari Senin 13 Maret 2023 jam 09.00 pagi sampai selesai.
Kamis, 01 Desember 2022
ISI KANDUNGAN Q.S
YAASIIN AYAT 1 – 6
Oleh : Mubarok,S.Ag
Yaa siin (QS. Yasin ayat 1)
Artinya :
Hanya Allah yang mengetahui maksudnya ( Q.s. Yasin ayat 1 )
Isi
Kandungan :
Allah memulai surah ini dengan huruf Yà Sìn. Pada surah-surah sebelumnya telah dibicarakan mengenai awal surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad. Pada kesimpulannya disebutkan bahwa pendapat yang terkuat menetapkan huruf-huruf abjad itu dimaksudkan sebagai peringatan untuk membangkitkan minat orang yang membacanya kepada hal-hal penting yang akan disebutkan dalam ayat-ayat sesudahnya. Tetapi, dari riwayat Ibnu 'Abbas diperoleh keterangan bahwa ya sin bermakna ya insan (wahai manusia) yakni wahai Muhammad. Demikian pula pendapat Abu Hurairah, 'Ikrimah, adh-ahhak, Sufyan bin Uyainah dan Sa'id bin Jubair. Menurut mereka, ya sin berasal dari logat Habsyah. Sedang Malik yang meriwayatkan dari Zaid bin Aslam menyebutkan arti ya sin adalah kependekan dari nama-nama Allah. Ada lagi yang berpendapat ya sin ringkasan dari kalimat "Ya Sayidal Basyar", yakni Nabi Muhammad sendiri. Atau ia adalah salah satu nama dari Al-Qur'an. Namun demikian, mayoritas ulama menyerahkan arti ya sin kepada Allah. (untuk lebih jelasnya, lihat tafsir surah al-Baqarah/2: 1) (Tafsik Kemenag RI).
Wal-qur`ānil-ḥakīm (QS.
36:2)
Artinya : Demi Al Quran yang penuh hikmah, (QS. Yasin ayat 2)
Isi
Kandungan :
Allah
bersumpah dengan Al-Qur'an yang penuh hikmah. Ada beberapa arti hikmah yang
disarikan dari pendapat-pendapat ahli tafsir yakni: kata "hikmah" di
sini muhkam, berarti yang telah pasti benarnya, dan tidak mungkin terdapat di
dalamnya sesuatu yang batil (tidak benar) baik makna lafadh, tujuan, hikmah,
kisah, hukumnya, dan lain-lain walaupun ditinjau dari segi apa pun.
"Hakim" adalah suatu sifat yang dimiliki oleh orang yang berakal
(cerdas). Demikian halnya Al-Qur'an, dengan hikmah yang dikandungnya memberi
bekal kehidupan manusia untuk menyucikan hati mereka dan memberi rasa kepuasan
rohani. Dengan kesucian hati dan kejernihan pikiran, akan terbuka
rahasia-rahasia yang terkandung di alam ini. Al-Qur'an memberi bimbingan hidup
yang penuh dengan kebijaksanaan, segala ajarannya sejalan dan harmonis dengan
pikiran yang sehat dan kehendak nafsu yang terkendali, yakni jalan pikiran yang
menuju ke arah kemaslahatan manusia.
Artinya :
Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul, (QS. Yasin ayat 3)
Isi Kandungan
:
Aku bersumpah bahwa sungguh, engkau adalah salah seorang dari rasul-rasul, wahai Nabi Muhammad. Engkau Kami utus untuk mengingatkan manusia dan memberi mereka petunjuk guna meraih kebahagiaan di dunia dan akhir. Ayat ini menyatakan bahwa tujuan sumpah Allah dengan Al-Qur'an yang mengandung hikmah itu adalah pernyataan bahwa Nabi Muhammad merupakan salah seorang di antara para rasul Allah yang diutus membawa kebenaran. Hal ini merupakan penolakan tegas terhadap orang-orang yang tidak memercayai Muhammad sebagai rasul Allah.
'alā ṣirāṭim mustaqīm (QS. 36:4)
Artinya : (yang berada) diatas jalan yang
lurus, (QS. Yasin ayat 4)
Isi
Kandungan :
Ayat
ini menegaskan bahwa Rasulullah berada pada jalan yang lurus. Hal ini sebagai
penegasan bahwa agama dan syariat yang dibawa Nabi Muhammad itu adalah benar,
lurus, berasal dari Allah. Salah satu ciri dari risalah Muhammad selalu berada
pada jalan yang lurus. Kebenaran yang dibawanya jelas, tanpa mencampuradukkan
antara kebenaran dan kebatilan. Syariat Muhammad saw tidaklah cenderung
mengikuti keinginan hawa nafsu manusiawi, tetapi senantiasa mendorong manusia
menuju kepada kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Firman Allah:
Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus.
(asy-Syura/42: 52)
Tanzīlal-'azīzir-raḥīm (QS. 36:5)
Artinya : (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, (QS. Yasin : 5)
Isi
Kandungan :
Ayat
ini dengan tegas menentukan kedudukan Al-Qur'an, yakni kitab suci yang berasal
dari Allah, bukan kitab suci hasil karangan manusia. Allah telah menyatakan
kepada para hamba-Nya agar memahami hakikat kitab suci yang diturunkan-Nya,
yaitu dari Zat Yang Maha Perkasa, yang bertindak seperti apa yang
dikehendaki-Nya, tetapi Dia juga Maha Penyayang kepada hamba-Nya. Kasih sayang
itu tertuang dalam Al-Qur'an yang mengandung rahmat bagi seluruh manusia.
Arti yang serupa dengan ayat ini adalah:
Dan sungguh, (Al-Qur'an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam.
(asy-Syu'ara'/26: 192)
Litunżira qaumam mā unżira ābā`uhum fa hum gāfilụn (QS. 36:6)
Artinya : Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. (QS. Yasin ayat 6)
Isi Kandungan :
Adapun hikmah penurunan Al-Qur'an antara lain
untuk memberi peringatan kepada bangsa Arab yang belum pernah diutus kepada
mereka seorang rasul. Dalam ayat ini disebutkan kerusakan moral bangsa Arab
akibat sifat lalai dalam hati mereka. Hati yang lalai ialah hati yang tidak
melaksanakan kewajiban yang harus dilaksanakan. Mereka adalah bangsa Arab
keturunan Nabi Ismail yang belum pernah dikirim seorang rasul pun kepada
mereka. Oleh karena itu, mereka belum mengenal syariat yang membawa manusia
kepada kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Adapun kata qaum yang mengandung
pengertian khusus ditujukan kepada bangsa Arab saja, tidak mengubah maksud
risalah yang sebenarnya, yakni tertuju kepada seluruh manusia, sebagaimana
ditegaskan dalam ayat lain:
Katakanlah (Muhammad), "Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah
bagi kamu semua. (al-A'raf/7: 158)
Rabu, 30 November 2022
TIGA KELOMPOK MANUSIA MENURUT IMAM ALGHOZALI
Oleh : Mubarok,S.Ag
Didalam Kitab Bidayatul Hidayah, imam Alghozali berpendapat bahwa manusia itu dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu : 1. Salimun, 2. Robihun, 3. Khosirun.
1. Salimun, yaitu kelompok orang orang yang selamat dalam hidupnya, baik kehidupan dunia maupun Akhirat. Dan mereka itu adalah :
a). Orang orang yang istiqamah didalam mengerjakan perkara perkara yang fardu, seperti Shalat lima waktu, Puasa Ramadlan, Zakat, haji, dan lain lain.
b). Mereka belum mau mengerjakan perkara perkara yang sunah, seperti belum mau Shalat Rawatib, tahajud, dhuha, puasa hari senin dan kamis, dan lain lain.
c). Dan didalam hidupnya mereka senantiasa meninggalkan perkara perkara maksiat.
2. Robihun, Yaitu kelompok orang orang yang beruntung dalam hidupnya, baik didunia maupun di akhirat. Dan mereka itu adalah :
a). Orang orang yang istiqamah didalam mengerjakan perkara perkara yang fardu, seperti Shalat lima waktu, Puasa Ramadlan, Zakat, haji, dan lain lain.
b). Mereka juga sudah mau mengerjakan perkara perkara yang sunah, seperti Shalat Rawatib, tahajud, dhuha, puasa hari senin dan kamis, dan lain lain.
c). Dan didalam hidupnya mereka senantiasa meninggalkan perkara perkara maksiat.
3. Khosirun, Yaitu Kelompok orang yang rugi dalam hidupnya, baik didunia maupun diakhirat, Dan Mereka itu adalah :
a). Orang orang yang sudah senang berIbadah tetapi juga masih senang berbuat maksiat ( STMJ =Shalat terus, maksiat jalan )
b). Orang orang yang sudah tidak mau bermaksiat, tetapi juga belum mau beribadah.
c). Orang yang masih senang bermaksiat, dan belum mau beribadah. Intinya “ belum mau beribadah fardhu dan sunah, dan belum mau meninggalkan keburukan”
Rabu, 06 Juli 2022
ISI
KANDUNGAN AL-QUR'AN SURAT AL-KAUTSAR
Oleh : Mubarok,S.Ag
1.Al-Qur’an Surat Al-Kautsar ayat 1
اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ
Artinya : Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. (QS. Al-Kausar ayat 1)
Tafsir
Ringkas Kemenag Kementrian Agama RI
Wahai Nabi Muhammad, sungguh Kami telah memberimu nikmat yang banyak dan langgeng, meliputi kenikmatan duniawi maupun ukhrawi, seperti kenabian, Al-Qur’an, syafaat, telaga di surga, dan sebagainya.
Tafsir
al-Jalalain [ Jalaluddin al-Mahalli dan
Jalaluddin as-Suyuthi ]
(Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu) hai Muhammad (Al-Kautsar) merupakan sebuah sungai di surga dan telaga milik Nabi saw. kelak akan menjadi tempat minum bagi umatnya. Al-Kautsar juga berarti kebaikan yang banyak, yaitu berupa kenabian, Alquran, syafaat dan lain sebagainya.
Tafsir Ibnu
Katsir [ Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin
Katsir ]
Imam
Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fudail, dari
Al-Mukhtar ibnu Fulful, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah
Saw. menundukkan kepalanya sejenak, lalu beliau mengangkat kepalanya seraya
tersenyum. Beliau bersabda kepada mereka, atau mereka bertanya kepada beliau
Saw., "Mengapa engkau tersenyum?" Maka Rasulullah Saw. menjawab,
"Sesungguhnya barusan telah diturunkan kepadaku suatu surat." Lalu
beliau membaca firman-Nya: Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar. (Al-Kautsar:
l), hingga akhir surat. Lalu Rasulullah Saw. bersabda, "Tahukan kalian,
apakah Al-Kautsar itu?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih
mengetahui." Rasulullah bersabda:
Al-Kautsar adalah sebuah sungai (telaga) yang diberikan kepadaku oleh Tuhanku
di dalam surga, padanya terdapat kebaikan yang banyak, umatku kelak akan
mendatanginya di hari kiamat; jumlah wadah-wadah (bejana-bejana)nya sama dengan
bilangan bintang-bintang. Diusir darinya seseorang hamba, maka aku berkata,
"Ya Tuhanku, sesungguhnya dia dari umatku.” Maka dikatakan,
"Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang telah dibuat-buatnya
sesudahmu."
2.Al-Qur’an
Surat Al-Kautsar ayat 2
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ
Artinya : Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan
berkorbanlah. (QS. Al-Kausar : 2)
Tafsir
Ringkas Kemenag Kementrian Agama RI
Karena itu, sebagai rasa syukurmu kepada Tuhanmu, maka laksanakanlah salat dengan ikhlas semata-mata karena Tuhanmu, bukan dengan tujuan ria; dan berkurbanlah demi Allah dengan menyembelih hewan sebagai ibadah dan sarana mendekatkan diri kepada Allah.
Tafsir
al-Jalalain [ Jalaluddin al-Mahalli dan
Jalaluddin as-Suyuthi ]
(Maka dirikanlah salat karena Rabbmu) yaitu salat Hari Raya Kurban (dan berkurbanlah) untuk manasik hajimu.
Tafsir Ibnu
Katsir [ Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin
Katsir ]
Yakni
sebagaimana Kami telah memberimu kebaikan yang banyak di duni adan akhirat,
antara lain ialah sebuah sungai yang sifat-sifatnya telah disebutkan di atas;
maka kerjakanlah salat fardu dan salat sunatmu dengan ikhlas karena Allah dan
juga dalam semua gerakmu. Sembahlah Dia semata, tiada sekutu bagi-Nya; dan
sembelihlah korbanmu dengan menyebut nama-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya.
Hal yang senada disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
Katakanlah, "Sesungguhnya salatku, ibadahku. hidupku, dan matiku hanyalah
untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah
diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri
(kepada Allah).”(Al-An'am: 162-163)
Tafsir
Quraish Shihab [ Muhammad Quraish Shihab ]
Dan jika kamu telah diberikan hal tersebut, maka kerjakanlah selalu salat dengan penuh ikhlas, dan sembelihlah kurbanmu sebagai bentuk kesyukuranmu atas karunia yang telah dilimpahkan kepadamu dan kebaikan yang diberikan khusus untukmu.
3.Al-Qur’an
Surat Al-Kautsar ayat 3
اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ
Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah
yang terputus. (QS. Al-Kausar ayat 3)
Tafsir
Ringkas Kemenag Kementrian Agama RI
Sungguh orang-orang yang membencimu dan mengacuhkan hidayah yang engkau bawa, dialah orang yang terputus. Tidak hanya terputus jejaknya, mereka pun dijauhkan dari rahmat Allah dan segala kebaikan. Keteladanan dan kebaikanmu akan terus menjadi pembicaraan sepanjang zaman dan keturunanmu akan terus mewarisi kebaikanmu.
Tafsir
al-Jalalain [ Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi ]
(Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu) yakni orang-orang yang tidak menyukai kamu (dialah yang terputus) terputus dari semua kebaikan; atau putus keturunannya. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang yang bersikap demikian, dia adalah 'Ash bin Wail, sewaktu Nabi saw. ditinggal wafat putranya yang bernama Qasim, lalu 'Ash menjuluki Nabi sebagai Abtar yakni orang yang terputus keturunannya.
Tafsir Ibnu
Katsir [ Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin
Katsir ]
Yakni sesungguhnya orang yang membencimu, hai Muhammad, dan benci kepada
petunjuk, kebenaran, bukti yang jelas, dan cahaya terang yang kamu sampaikan;
dialah yang terputus lagi terhina, direndahkan dan terputus sebutannya. Ibnu
Abbas, Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, dan Qatadah mengatakan bahwa ayat ini
diturunkan berkenaan dengan Al-As ibnu Wa-il.
Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari yazid ibnu Ruman yang mengatakan
bahwa dahulu Al-As ibnu Wa-il apabila disebutkan nama Rasulullah Saw., ia
mengatakan, "Biarkanlah dia, karena sesungguhnya dia adalah seorang lelaki
yang terputus, tidak mempunyai keturunan. Apabila dia mati, maka terputuslah
sebutannya." Maka Allah menurunkan surat ini.
Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu
Jahal. Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas, bahwa makna: sesungguhnya orang-orang
yang membencimu. (Al-Kautsar: 3) Yakni musuhmu. Pendapat ini lebih mencakup dan
meliputi semua orang yang bersifat dan berkarakter demikian, baik dari kalangan
mereka yang telah disebutkan di atas maupun yang lainnya.
ikrimah mengatakan bahwa al-abtar artinya sebatang kara. As-Saddi mengatakan
bahwa dahulu mereka apabila meninggal dunia keturunannya laki-laki mereka, maka
mereka mengatakannya abtar (terputus keturunannya). Dan ketika putra-putra Nabi
Saw. semuanya meninggal dunia, maka mereka mengatakan, "Muhammad telah
terputus." Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang
yang membenci kamu, dialah yang terputus. (Al-Kautsar: 3)
Pendapat ini senada dengan apa yang telah kami sebutkan di atas yang mengatakan
bahwa abtar ialah orang yang tidak mempunyai keturunan laki-laki. Maka
orang-orang kafir Quraisy itu mengira bahwa seseorang itu apabila anak-anak
lelakinya mati, maka terputuslah sebutannya.
Padalah tidaklah demikianlah kenyataannya, bahkan sebenarnya Allah mengekalkan
sebutan Nabi Saw. di hadapan para saksi dan mewajibkan syariat yang dibawanya
di atas pundak hamba-hamba-Nya, yang akan terus berlangsung selamanya sampai
hari mereka dihimpunkan untuk mendapat pembalasan. Semoga salawat dan salam-Nya
terlimpah-kan kepadanya selama-lamanya sampai hari kiamat.
Tafsir
Quraish Shihab [ Muhammad Quraish Shihab
]
Sesungguhnya
orang yang membencimu adalah terputus dari segala kebaikan.




.jpeg)